Natal dikenal sebagai hari raya umat Kristiani di seluruh dunia, akan tetapi di Jepang yang hanya memiliki sedikit populasi umat beragama, Natal merupakan perayaan sekuler. Meski perayaan hari Natal sangat meriah di Jepang, ternyata natal bukan hari libur nasional, loh. Orang-orang tetap bekerja pada malam Natal sekalipun. 

Mau tahu fakta menarik lainnya seputar perayaan Natal di Jepang? Simak artikel ini, ya.


Lebih romantis dari hari Valentine

Di Jepang, malam natal dianggap sebagai hari spesial bagi muda-mudi untuk berkencan dan makan malam romantis di restoran. Banyak restoran dan pertokoan yang mengadakan penawaran khusus bagi pasangan di malam Natal. Selain itu juga, lampu jalanan dan pepohonan dirancang sedemikian rupa untuk memberikan kesan romantis. Saking romantisnya, malam Natal dianggap lebih romantis daripada hari Valentine.


Kue spesial Natal

Kamu mungkin pernah lihat kue spons yang dibalut dengan whipped cream dan dihiasi dengan potongan buah stroberi di anime dan manga. Kue yang satu ini dikenal dengan sebutan Kurisumasu Keki (クリスマスケーキ) atau “kue Natal” dalam bahasa Jepang. Kue ini dijual hampir di setiap sudut kota dari Hokkaido sampai Kyushu. Tradisi makan kue Natal ini sudah ada sejak tahun 1970-an. Ternyata selain sebagai simbol perayaan Natal, terdapat nilai sentimental juga dalam sepotong Kurisumasu Keki. Kue ini dianggap sebagai simbol kemakmuran Jepang setelah masa Perang Dunia ke-2.


Makan ayam goreng bareng keluarga

Selain kue, ternyata orang Jepang juga sangat suka makan ayam goreng tepung untuk merayakan Natal. Saking tingginya permintaan ayam goreng pada malam Natal, beberapa gerai ayam goreng sampai mengadakan pre-order atau program pemesanan awal sejak bulan November. Namun jangan khawatir, apabila kamu lupa mengikuti pre-order, kamu tetap bisa membeli ayam goreng di supermarket dan pertokoan saat malam Natal.


Pohon Natal berbentuk bonsai

Pohon bonsai diperkenalkan ke negara Jepang oleh biksu Buddha yang juga merupakan pengrajin miniatur pohon. Pohon bonsai dipercaya mengandung pesan mengenai harmoni atau keseimbangan antara manusia, jiwa, dan alam. Tak heran apabila pohon bonsai juga dijadikan tradisi pada perayaan Natal di Jepang. 

Memiliki tinggi sekitar 30 cm, pohon bonsai ini dihiasi oleh lampu-lampu yang cantik. Banyak orang lebih memilih untuk memajang pohon Natal berbentuk bonsai di rumah mereka daripada pohon Natal besar karena lebih hemat tempat.


Hadiah Natal

Natal tanpa hadiah rasanya kurang lengkap, ya. Di Jepang pun ada tradisi memberikan hadiah dan Santa Claus. Bedanya, anak-anak Jepang percaya bahwa Santa Claus tinggal di Finlandia, dan bukan di Kutub Utara. Hihi, unik ya? 

Berbeda dengan tradisi pemberian hadiah Natal di negara lain, anak-anak di Jepang biasanya hanya mendapatkan satu hadiah saja dari orang tua mereka. Hal ini disebabkan karena setelah Natal akan ada perayaan yang lebih besar yang dikenal dengan sebutan Oshogatsu (お正月) atau perayaan tahun baru dalam bahasa Jepang. Pada Oshogatsu, anak-anak akan menerima hadiah berupa Otoshidama atau angpau dengan jumlah uang yang cukup besar.


Festival Cahaya

Terdapat banyak festival cahaya yang tersebar di penjuru kota atau dikenal sebagai Winter Illumination (イルミネーション) yang bisa kamu kunjungi menjelang dan setelah periode perayaan Natal di Jepang. Biasanya festival ini diberikan nama sesuai dengan lokasi penyelenggaraannya. Kamu bisa mencari informasi tentang festival cahaya di website masing-masing kota. Ditemani lampu-lampu cantik yang terang benderang, dijamin momen jalan-jalanmu akan semakin meriah.


Bagaimana, seru kan perayaan Natal di Jepang? Mau berkunjung ke Jepang saat Natal? Eits, belajar bahasa Jepang dulu bersama Aki No Sora! Dengan tenaga pengajar yang andal dan berkompetensi di bidangnya, kamu bisa sekaligus diskusi tentang budaya sambil belajar bahasa Jepang.